Krakatau: Gunung Menjulang di Tengah Lautan

Oleh : B. Stella B.

Pulau Krakatau, atau Krakatoa, secara geologis berada di selat yang memisahkan Pulau Sumatera dan Jawa. Krakatau berada di antara Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung di tengah perut Selat Sunda. Pada tahun 1883, Krakatau bangun dari tidurnya selama 200 tahun dan menjadi awal dari letusan dahsyat di Selat Sunda. Sang Krakatoa tak hanya meletus namun memecah dirinya hingga hancur berkeping-keping dan memuntahkan debu vulkanik. Akibat amukannya, dunia sempat gelap total hingga 2,5 hari dan cahaya di Bumi meredup selama 1 tahun karena sinar mentari ditutupi oleh abu vulkaniknya.

Krakatau saat ini menjadi kawasan cagar alam. Krakatau yang saat ini kita lihat adalah anak Gunung Krakatau yang muncul dari bawah laut 44 tahun setelah peristiwa meletusnya si pendahulu. Sang anak tumbuh dengan cepat, tingginya terus bertambah hingga 6 meter dan lebarnya 12 meter setiap tahun.

Perjalanan saya menuju Pulau Anak Krakatau dimulai dari Pantai Carita di Provinsi Banten bagian barat, menggunakan speedboat kecil. Perjalanan ini bukanlah pelesir, melainkan untuk mengambil data oseanografi di perairan sekitar Anak Krakatau. Perjalanan dilakukan di awal Bulan September. Tak disangka perjalanan menuju Pulau Anak Krakatau tidak semulus yang diperkirakan. Gelombang tinggi terus menghadang selama perjalanan dengan ketinggian antara 1,5 – 3 meter.

stella 3

Setelah 2 jam perjalanan, Pulau Anak Krakatau mulai terlihat ditandai dengan menjulangnya sang anak gunung purba tersebut yang mengeluarkan asap kelabu. Pasir hitam menjadi ciri khas pulau ini. Perairan di sekitar Pulau Anak Krakatau yang tenang justru berbanding terbalik dengan kondisi perairan di sepanjang perjalanan menuju ke sana. Suara ombak hampir tak terdengar. Sunyi senyap. Pohon-pohon rimbun berkumpul membentuk hutan yang menjadi petunjuk menuju Gunung Anak Krakatau. Pendakian Anak Krakatau cukup mudah untuk dilakukan karena ketinggiannya hanya sekitar 400 meter. Secara umum, ada dua produk Gunung Anak Krakatau yaitu abu vulkanik jatuhan dan lava aliran. Abu vulkanik di sini umumnya berukuran 1 milimeter hingga 3 centimeter. Sedangkan lava aliran kemungkinan mengandung andesit dan mineral seperti plagioklas, piroksen, dan gelas vulkanik.

Esok harinya, perjalanan dilanjutkan menuju perairan sekitar Pulau Rakata. Banyak cerita yang berkata bahwa Pulau Rakata adalah pecahan dari ledakan Krakatau. Air yang jernih di sekitar pulau menjadikan perairan ini spot snorkling yang indah. Bebatuan di sekitar pulau ini cukup terjal. Kelapa muda bisa menjadi nilai tambah untuk menikmati pulau ini. Rakata, yang boleh dibilang merupakan warisan Krakatau, menjadi hadiah Olympus untuk Poseidon.

stella 2

Selama di perairan sekitar Anak Gunung Krakatau, saya dan tim mengambil beberapa data oseanografi yaitu data arus, salinitas, temperature, klorofil, sample air, dan PCO2. Data arus diambil dengan menggunakan currentmeter sedangkan data salinitas, temperature, dan klorofil diambil menggunakan CTD. Kedua alat tersebut dirangkai dalam suatu bingkai kemudian diikat dengan tali dan diturunkan perlahan menggunakan katrol. Untuk sample air diambil menggunakan tabung Nansen kemudian dimasukkan ke dalam botol sample. untuk data PCO2, digunakan aplikasi untuk merekam tekanan CO2. Gelombang yang tinggi membuat kami kewalahan. Derasnya ombak dan kecepatan pergerakan kapal membuat banyak air yang masuk ke kapal. Gelombang yang tinggi juga membuat saya dan beberapa orang dari tim pusing dan mual.

Pada hari pertama kami mengambil data di 9 titik. Selama pengambilan data, dilakukan istirahat sekitar 1 jam di pulau Krakatau. Kami sudah membawa bekal nasi dan air kelapa. Pada hari kedua kami mengambil data di 8 titik berbeda. Pada hari kedua ini kami beristirahat di Pulau Rakata dan juga tetap ditemani dengan air kelapa. Keseruan di hari kedua ini bertambah karena kami membeli ikan segar dari nelayan sekitar saat kapal kami beristirahat. Ikan tersebut kemudian digoreng untuk dimakan bersama di penginapan.

stella 1

Advertisements

Machine Learing for Remote Sensing in Oceanography

Oleh : Aulia Ilham

Tahu gak sih apa itu machine learning? Jadi buat kalian yang awam pasti bertanya-tanya nih tentang hal yang satu ini. Secara sederhana, machine learning merupakan sebuah metode pengolahan data dimana komputer akan memiliki kemampuan untuk belajar tanpa diprogram secara eksplisit. Sehingga data dapat dilakukan pengolahan sendiri oleh komputer untuk menghasilkan suatu produk atau output dengan kriteria yang kita inginkan tanpa campur tangan dari si pemilik data. Akurasinya? Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, metode ini merupakan metode terbaik karena komputer belajar berdasarkan data dengan tingkat akurasi yang tinggi. Tentu ini cukup menarik untuk kita, terutama anak oseanografi sendiri yang sering berkutat dengan data yang banyak dan memusingkan.

Jika dilihat dari sejarahnya, machine learning sudah dikembangkan sejak tahun 1959 oleh Arthur Lee Samuel, seorang pelopor bidang game komputer dan artificial intelligence asal Amerika Serikat. Machine learning mengeksplorasi studi dan konstruksi algoritma dan membuat prediksi pada data. Selanjutnya algoritma tersebut akan mengikuti instruksi program statis secara ketat dengan membuat prediksi atau keputusan berbasis data, melalui pembuatan model dari input sampel.

Lalu apa bedanya dengan modelling? Jadi, untuk pemodelan (modelling) yang biasa kita pelajari di kelas, pemrogaman dilakukan dengan membuat program secara mandiri lalu memasukkan data yang dibutuhkan. Kemudian kita masih harus memeriksa output dari running program tersebut untuk mengetahui apakah sudah sesuai dengan kriteria atau belum. Proses ini memakan waktu yang cukup lama untuk data yang besar, sehingga prosesnya dilakukan secara berulang-ulang hingga hasilnya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Lalu bagaimana dengan machine learning? Nah, pengguna tinggal memberikan data dan output yang diinginkan pada komputer. Selanjutnya komputer akan belajar dari data sampel dan mengulang proses hingga didapatkan program statis yang nantinya akan digunakan pada data besar. Kemudian keluaran dari komputer tersebut yaitu sebuah program yang nantinya kita gunakan untuk running program; pastinya dengan hasil yang sudah benar. Dengan demikian kita bisa memangkas waktu pengerjaan dalam sebuah proses pengolahan data.

Untuk dunia oseanografi sendiri, metode ini begitu besar potensinya untuk dikembangkan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Ashkezari, (2016) mengatakan bahwa pendekatan machine learning (pendekatan statistika) sangat menonjol dalam menganalisis suatu sistem kompleks yang memiliki daerah pengamatan luas. Nah, jadi jika selama penelitian kita mengamati daerah yang luas dan memiliki data yang bisa digunakan secara statistik, maka kita bisa menggunakan machine learning.  Contohnya seperti melakukan pengolahan data citra satelit, melakukan pemodelan arus, gelombang, pasang surut, serta proses pengolahan data temperatur, salinitas, pH, dan masih banyak yang lain.

Aplikasi pada Citra Satelit

Pada data citra satelit, secara umum kita biasa melakukan pengolahan data dengan bantuan software seperti: ErMapper, Global Mapper, Seadas, NV, serta masih banyak lagi. Kalau kita lihat lebih lanjut, penggunakan software ini merupakan suatu hal yang membatasi kita dalam mengeksplorasi suatu data lebih dalam. Mengapa demikian? Karena ruang lingkup kerja kita sudah dibatasi oleh fasilitas yang ada pada masing-masing program. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika fasilitas tersebut belum memadai untuk data yang ada. Namun, pada machine learning kemampuan untuk memberikan model terbaik pada data tersebut dapat dilakukan dengan pendekatan statistical learning, dari data setiap piksel yang ada dilakukan pendekatan statistik. Sehingga model yang diberikan benar-benar sesuai dengan keadaan data secara keseluruhan.

Foto Artikel Aulia 1

Gambar 1. Hasil clustering data pada lahan mangrove menggunakan Akaike Information Criterion

Pada gambar diatas, penulis mencoba melakukan clustering data menggunakan citra worldview-2 dengan resolusi 0,46 meter pada daerah kajian Nusa Lembongan. Pada kegiatan tersebut, dilakukan pengolahan data citra dengan pendekatan statistika yang mengambil nilai data pada piksel untuk kemudian diolah menggunakan pendekatan Akaike Information Criterion (AIC). Apa itu AIC? AIC bekerja dengan menguji data sampel atau keseluruhan untuk menentukan parameter-parameter (cluster) yang terdapat pada data secara berulang agar mendapatkan hasil terbaik pada data tersebut. Kemudian dari pendekatan tersebut keluarlah banyak cluster pada data citra Nusa Lembongan yaitu sebanyak 14 cluster.

Selanjutnya, dari nilai piksel yang ada, dilakukan pengelompokkan data berdasarkan cluster tersebut dengan menggunakan perhitungan Gaussian Mixture Model untuk menghitung nilai probabilitas setiap piksel terhadap cluster yang ada. Nilai probabilitas paling besarlah yang digolongkan pada kategori tersebut. Setelah semua digolongkan berdasarkan nilai pikselnya, maka piksel disusun ulang untuk menjadi sebuah gambar utuh lengkap dengan hasil clustering-nya.

Jadi buat kalian, pembaca terkhusus anak oseanografi, mulailah mengeksplor dunia kita ini dengan hal-hal baru yang tidak diajarkan di kelas. Ternyata masih banyak hal baru yang belum kita temui, yang mana masyarakat luas di luar sana sudah mulai belajar untuk mengembangkannya. Jangan mau jadi bangsa yang selamanya tertinggal oleh teknologi. Sudah waktunya anak muda bangkit untuk menjemput Indonesia menjadi negara juara, kuat dan berwibawa!

Kenapa Air Laut Warnanya Biru?

Oleh : Reni Wijayanti

Pernahkah terpikir oleh kalian mengapa air laut berwarna biru? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita tinjau peristiwa yang menyebabkan air laut berwarna biru. Sebenarnya warna air laut sama seperti air biasa yaitu bening atau tidak berwarna. Faktor yang sangat berpengaruh terhadap warna air laut adalah cahaya matahari. Pada saat siang hari, matahari memberikan cahaya ke belahan bumi dan laut menyerap cahaya tersebut. Pada dasarnya cahaya berwarna putih, namun sebenarnya warna putih tersebut merupakan kumpulan dari macam macam warna yang memiliki panjang gelombang berbeda-beda. Warna ungu adalah cahaya yang memiliki panjang gelombang terpanjang dan warna merah memiliki panjang gelombang terendah. Panjang gelombang dari warna ungu sampai merah dapat dilihat pada gambar berikut.

Pengamburan Warna

Visualisasi Penghamburan Cahaya Putih dalam Panjang Gelombang

(Sumber : Sites.google.com)

Cahaya matahari diserap oleh laut dan mengalami proses optik seperti penghamburan (scattering) dan penyerapan (absorpsion). Akibatnya cahaya matahari mengalami pembiasan di laut dan air laut akan menyerap dan mentransimisikan warna-warna yang berbeda di tiap kedalaman, hal tersebut bergantung kepada panjang gelombang dan kedalaman. Pada permukaan laut, hampir semua warna dapat diserap, namun semakin dalam hanya warna dan panjang gelombang tertentu yang dapat diserap dan ditransmisikan.

Warna biru air laut adalah biru kehijauan atau Sian. Penyebab laut berwarna biru adalah karena hanya cahaya biru kehijauan yang dapat ditransmisikan ke dalam, kemudian disebarkan, dan ditransmisikan kembali ke luar dari air tanpa diserap. Kadar garam yang terkandung dalam laut juga mempengaruhi tingkat kebiruan laut. Semakin tinggi kadar garam dalam laut, semakin biru warna laut.

Sehingga dapat disimpulkan air laut berwarna biru disebabkan oleh cahaya matahari yang mengalami pembiasan di laut dan air laut akan menyerap kemudian mentransimisikan warna-warna yang berbeda di tiap kedalaman yang bergantung kepada panjang gelombang terhadap kedalaman. Pada cahaya biru kehijauan, cahaya ditransmisikan ke dalam air laut kemudian disebarkan, dan ditransmisikan kembali ke luar tanpa diserap dikarenakan kesesuaian panjang gelombangnya.Sehingga, warna biru merupakan warna yang mendominasi air laut.

 

Ngobrol Perkara Ilmu #2 Eksplorasi Bawah Laut dengan Selam Ilmiah

Oleh: Putri Rahmanii

 

Tubuh manusia tidak diciptakan untuk dapat bertahan lama di laut. Manusia tidak memiliki insang untuk dapat bernafas di laut, tidak pula memiliki kulit yang dapat menahan tekanan tinggi dan suhu rendah yang jauh berbeda dengan tekanan dan suhu di darat. Namun kita memiliki hasrat besar untuk berpetualang mengekplorasi dunia asing dibawah birunya samudera. Semakin lama apa yang menarik kita untuk mengekplorasi dalam laut bukan hanya hasrat petualangan dan keingintahuan namun juga kebutuhan akan memanfaatkan berbagai sumber daya di laut, untuk itulah manusia menciptakan teknologi kapal selam dan berbagai perangkat selam ilmiah. Sebuah cerita mengenai eksplorasi dasar laut yang dilakukan sekelompok penyelam ilmiah tergambar dalam film garapan Ron Scalpello yang bertajuk “Pressure”. Film berdurasi 91 menit ini mengantarkan kita pada diskusi keilmuan dalam NGOPI #2 yang diadakan pada Jumat sore tanggal 17 November 2017.

“Pressure” menceritakan bagaimana empat orang penyelam ilmiah atau underwater welder terjebak di sebuah kapal selam di dasar perairan Hindia sekitar Somalia dalam sebuah tugas perbaikan pipa minyak. Bagaimana keempat tokoh ini bisa terjebak mengundang pertanyaan apakah menurunkan underwater welder di tengah badai merupakah kesalahan peramalan cuaca atau pelanggaran ketentuan keselamatan kerja? Detail kecil mengenai kondisi lingkungan di awal film mungkin terlewatkan oleh kebanyakan penonton. Setelah memutar kembali bagian awal film didapati bahwa semua orang telah mengetahui kondisi alam yang kurang baik namun tetap memaksakan keempat orang ini untuk turun, hal ini tentulah pelanggaran ketentuan keselamatan kerja yang tidak sepatutnya terjadi. Keempat tokoh memutuskan untuk turun setelah dijanjikan bayaran yang berlipat ganda. Gaji underwater welder rata-rata Rp. 355.925,-/jam dan dapat mencapai Rp. 1,25 Miliar pertahun, jumlah yang besar tentunya menggiurkan bagi Engel, Peter, Josen dan Hurst. Gaji yang besar ternyata tidak sepantar dengan risiko yang mereka hadapi.

Penyelaman dilakukan pada kedalaman 670 kaki atau 204.216 meter dibawah permukaan laut tropis Samudera Hindia. Melalui perhitungan tekanan hidrostatis didapati tekanan pada kedalaman ini kurang lebih 200 bar atau 200x tekanan atmosfer. Perbedaan tekanan yang besar dengan permukaan mengharuskan penyelam melakukan popping untuk menyesuaikan tekanan tubuh dengan tekanan udara, sebagaimana yang ditampilkan pada film. Perbedaan tekanan merupakan masalah besar bagi manusia yang memiliki rongga-rongga dalam tubuhnya. Pada suatu adegan kapal selam yang mereka tumpangi jatuh secara mendadak yang menyebabkan salah seorang tokoh mengalami squeeze pada gigi yang mengharuskan giginya untuk dicabut. Gigi memiliki rongga kecil pada akar atau rongga yang lebih besar pada gigi yang ditambal, perubahan tekanan secara tiba-tiba tanpa penyeimbangan dapat menyebabkan nyeri pada bagian ini. Pada adegan lain diitampilkan bagaimana seseorang mengalami pendarahan setelah naik ke permukaan. Hal ini dikenal dengan barotrauma atau emboli udara. Barotrauma disebabkan karena penyelam naik ke permukaan terlalu cepat dan melewati safety stop tubuh akan gagal menyesuaikan diri dengan tekanan sekitar. Akibatnya gas-gas terlarut dalam darah tidak sempat menyesuaikan diri dan terbentuklah gelembung yang menyumbat peredaran darah. Selain perbedaan tekanan kurangnya oksigen juga menjadi salah satu masalah yang dihadapi penyelam. Kurangnya oksigen dapat menyebabkan seseorang berkurang kesadaran dan berhalusinasi.

Salah satu hal menarik, dan mungkin salah, yang kita lihat di film ini adalah bagaimana seseorang dapat melakukan freedive tanpa menggunakan alat bantu dalam kedalaman ini. Mengingat kondisi yang begitu sulit hal ini sangat meragukan untuk dapat dilakukan. Pada awal penyelaman dalam film ini terlihat betapa banyak dan rumitnya hal yang harus digunakan untuk dapat melakukan penyelaman ilmiah di dasar laut. Namun tidak dapat dipungkiri selam ilmiah merupakan hal sangat menantang dan dibutuhkan saat ini. Mengingat besarnya risiko yang mengiringinya, keselamatan penyelaman mulai dari seberapa terlatih orang tersebut, alat hingga kondisi alam sangat penting untuk selalu diperlukan.

 

 

 

 

 

 

 

Paleoseanografi

Oleh: Reza Jaya dan Muhammad Afif

“Learn from the past if you want to predict the future” – Confucius

Paleoceanography adalah ilmu yang mempelajari karakteristik laut dari zaman dahulu melalui sikulasi kimia, biologi, geologi dan pola sedimentasi dan produktivitas biologis. Melalui ilmu ini kita dapat mengetahui pola di laut secara keseluruhan yang dapat digunakan untuk menunjuang penelitian laut di masa kini dan prediksi untuk masa depan. Paleoceanography salah satunya merupakan kegiatan yang ingin mengetahui atau merekonstruksi iklim purba seperti zaman Holocen atau zaman lainnya.

 

Iklim zaman purba dapat direkontruksi melalui pengumpulan berbagai data, baik berupa sedimen permukaan dasar laut ataupun data dari air laut yang bertujuan untuk pengontrol perubahan iklim masa lalu. Seperti contoh dengan mengetahui siklus karbon global yang terjadi pada masa kini dapat di prediksi bahwa zaman mendatang siklus karbon yang terjadi sekarang akan berubah dengan laut sebagai penyerap terbanyak zat karbon. Contoh lainnya adalah pengaruh perubahan paleo oceanography pada rekaman sedimen aktivitas hydrothermal.

 

Hasil riset ini nantinya akan mencoba merekonstruksi iklim osenografi purba yang terjadi di zaman purba, yang meliputi variabilitas suhu, kedalaman lapisan termoklin atau karakter arlindo secara umum yang berhubungan dengan perubahan iklim global dalam skala waktu yang panjang. Dengan memahami ini semua, dimaksudkan kita akan mampu memprediksi segala perubahan-perubahan ekstrem yang sedikit banyak dapat menggangu ruang dan lingkungan kita secara keseluruhan. Dengan itu kita dapat mengetahui potensi sumber daya alam dan ekonomi regional memiliki arti yang sangat signifikan.

 

karbon.JPG

Siklus Karbon Global

(Sumber: https://www.academia.edu/5686326/Biogeokimia_Laut_dan_Perubahan_Global)

Meskipun paleoseanografer dapat menspesifikkan temperature, salinitas, kandungan nutrisi, pCO2, dan lain-lain. Seringnya kita hanya bisa mengetahui ini secara tidak langsung melalui sifat-sifat biologi, kimia, dan fisik. Lalu bagaimana kita dapat merekontruksi sifat-sifat ini?

  • Paleotemperature (Oksigen Isotop) berdasarkan prinsip kimia/fisik.
  • Bio-ecological paleotemperatures (Metode Imbrie-Kipp) berdasarkan korelasi antara temperature dan distribusi organisme pada samudera dan sedimen
  • Skala waktu geologi
  • Tipikal Pola Sediment Samudera

Studi mengenai paleoklimatologi di inti kedalaman laut memerlukan indikator yang stabil dari kondisi yang sudah lalu dan skala waktu yang dapat diandalkan. Namun dasar laut bergerak secara vertikal dan secara horizontal.

 

 

Ngobrol Perkara Ilmu #1 Oseanografi dan Pertahanan Laut Indonesia

Oleh: Angelina Manikape dan Randy Ritonga

Luasnya laut Indonesia merupakan suatu berkah namun juga suatu tanggung jawab bagi kita semua untuk menjaganya. Indonesia menganut pertahanan rakyat semesta dimana menjaga Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat negara, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh rakyat. Memahami  karakteristik dan fenomena yang terjadi di laut kita akan membantu kita dalam menjaga lautan Indonesia. Pada Ngobrol Perkara Ilmu (NGOPI) pertama yang diadakan pada 24 Agustus 2017 lalu ditayangkan sebuah film yang berjudul “The Admiral : Roaring Current”. Film ini menceritakan tentang perjuangan  Kapten Yi Sun Sin seorang pemimpin pasukan armada laut di Korea Selatan tepatnya di daerah Joseon. Pemahaman Kapten Yi Sun Sin akan karakteristik wilayah laut Joseon yang dibalut semangat dan kegigihannya membangkitkan rasa keberanian pasukannya, akhirnya membawa Korea Selatan menuju kemenangan. Hanya dengan 12 kapal Korea Selatan bisa memukul mundur pasukan Jepang.

Pada tahun 1597 Korea Selatan Kehilangan lebih dari 150 kapal di Perang Chilchonryang dengan Jepang. Sebulan setelah Perang Chilchonryang, Jepang kembali menyerang Korea Selatan. Korea Selatan dibawah arahan Admiral Yi memilih untuk berperang di Selat Myeongnyang. Apabila Selat Myeongnyang jatuh ke tangan Jepang, akan sangat mudah bagi Jepang untuk menaklukan ibu kota Korea Selatan melalui jalur darat. Namun Selat Myeongnyang  juga memiliki kondisi alami yang sulit.

ngopi

Lokasi Pertempuran

(Sumber : http://mengnews.joins.com/view.aspx?aId=2963649)

Selat Myeongnyang memisahkan Korea Selatan dan Pulau Jindo yang berjarak 293 meter. Sempitnya selat ini menyebabkan Jepang akan kesulitan mengepung Korea Selatan. Selain itu sempitnya selat juga membuat arus disini bergerak dari kecepatan tinggi. Selat Myeongnyang juga memiliki eddy dan pusaran air yang kuat. Pasang surut di daerah ini memiliki tipe campuran condong semidiurnal yang menyebabkan arus pasangnya surutnya berbalik arah setiap 3 jam sekali, dari utara ke selatan dan sebaliknya sehingga kapal yang memasuki daerah ini hanya memiliki sedikit waktu untuk dapat melewati rintangan alami selat ini. Beruntungnya Admiral Yi Sun Sin memahami betul kondisi ini. Pemahaman dan kegigihannya mengatarkan Korea Selatan yang saat itu hanya menggunakan 13 kapal memenangkan perang melawan Jepang yang membawa 330 kapal dengan jumlah korban hanya 2 orang tanpa kehilangan satu pun kapal.
Bagaimana Laut Indonesia diserang? Siapkah kita mempertahankannya? Indonesia memiliki DISHIDROS-AL dibawah TNI Angkatan Laut yang bertugas melakukan penelitian, pemetaan hingga publikasi yang mendukung TNI AL menjaga keselamatan laut maupun kepentingan pelayaran umum. Pemerintah juga tengah gencar melakukan sosialisasi untuk memingkatkan pemahaman masyarakat Indonesia mengenai lautnya.

Kapal perang apa yang cocok digunakan di Indonesia? Kapal perang terdiri dari banyak jenis berdasarkan fungsinya seperti Kapal Selam, Kapal Induk, dll. Pemilihan kapal juga harus disesuaikan dengan lokasi pertempurannya, serta bagaimana kesiapan Para Pejuangnya. Laut di Indonesia bagian barat kebanyakan tergolong perairan dangkal sementara laut di timur Indonesia kebanyakn tergolong perairan dalam sehingga kapal selam lebih cocok digunakan di bagian timur. Australia menyerang wilayah Indonesia melalui laut bagaimana kita mempertahankan diri? Jika kita meninjau dari jarak terdekat, tentu Australia akan memilih untuk masuk ke wilayah Indonesia melalui Selat Sunda dan Selat Lombok, sehingga kita perlu menguatkan pertahanan di lautan selatan Indonesia tersebut.

Selat-selat di Indonesa sangat beragam kondisi geografisnya. Sebagai penghubung dua sistem samudera yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sifat dan kondisinya perairan Indonesia dipengaruhi oleh kedua samudera tersebut, khususnya samudera pasifik. Pengaruh ini terlihat antara lain pada sebaran massa air ,arus, pasang surut dan kesuburan perairan. Selain pengaruh kedua kedua samudera tersebut, keadaan musim juga mempengaruhi sifat dan kondisi perairan disini, misalnya perairan Selat Makasar, Laut Banda, Laut Flores dan Laut Sulawesi (Wyrtki, 1961) Pergantian angin muson yang berubah secara beraturan ditandai dengan bertiupnya angin muson secara bergantian menimbulkan dampak langsung terhadap perubahan-perubahan sifat-sifat fisika air laut. Secara umum angin muson tidak hanya berpengaruh terhadapwilayah perairan Indonesia, melainkan juga di Asia Tenggara. Angin yang bertiup di atas Asia Tenggara ternyata mempunyai pengaruh yang besar terhadap pergerakan massa air di perairan Indonesia, khususnya di Selat Makasar bagian selatan, Laut Jawa dan Laut Flores. Karena angin muson berbalik arah dua kali dalam satu tahun, maka demikian juga keadaannya bagi edaran air laut di Indonesia, sedikitnya di lapisan bagian atas termoklin.

OTEC OEEC

Oleh : Reza Jaya

jaya_1

The FORESEA project will launch a call for proposals from developers of offshore energy supply technologies at the Offshore Energy 2017 event which takes place in Amsterdam on 10 & 11 October. The call aims to help developers of offshore and sub-sea technologies adapt their products for use in the renewable energy sector. FORESEA is an €11m program, financed by the Interreg North-West Europe program. It supports offshore renewable energy technologies to test at a network of world-leading open-sea test sites, composed of EMEC (UK), SEM-REV (France), SmartBay (Ireland) and DMEC (the Netherlands).

“The FORESEA program has been running for over a year now, and the response from technology developers has been strong. A ‘real-sea’ technology testing program can be very costly, and FORESEA helps technology developers by shouldering some of that cost,” explained Rob Flynn, Communications Manager at Ocean Energy Europe who leads the communication of the FORESEA project.

“Three wave and tidal energy technology developers – Scotrenewables, Tocardo, and CorPower Ocean – have secured support to test their technologies through FORESEA, with plenty more scheduled to hit the water over the next 2 years.” FORESEA awards ‘recommendations of support’ to project developers through a competitive call for application procedure. Awardees then secure their support package upon contract with the center they wish to test at.

“The third call for proposals closes on 29 September, and the fourth call, which we intend to open at Offshore Energy 2017 will have a different focus – offshore and subsea supply chain technologies. Offshore renewables are coming on fast, and with the downturn in the oil & gas market now is a good time for technology developers to diversify into this space. We’re keen to have that conversation with technology developers, and see if FORESEA can support them to come to one of FORESEA’s test sites,”Flynn added. Representatives of the FORESEA project will be present at Offshore Energy 2017 as part of the Marine Energy Pavilion, coordinated by DMEC.

For more information on the 4th FORESEA call for applications, visit the FORESEA website: www.foreseaproject.eu