Jurnal Pulau Kelapa II : Sekilas Lebih Dalam

Jurnal Pulau Kelapa 2: Sekilas Lebih Dalam

 

Log Kegiatan:

04 Agustus 2015

02.00 – 05.00 : Berangkat dari Bandung menuju Pelabuhan Kali Adem

05.00 – 07.00 : Istirahat, sholat, dan makan di sekitar Pelabuhan Kali Adem

07.00 – 11.00 : Berangkat dari Pelabuhan Kali Adem menuju Dermaga Pulau Harapan

11.00 – 12.00 : Perjalanan dari dermaga Pulau Harapan menuju home stay di Pulau Kelapa

12.00 – 14.00 : Istirahat, sholat, dan makan

14.00 – 18.00 : Pengambilan data

18.00 – 24.00 : Jam bebas

05 Agustus 2015

00.00 – 09.00 : Istirahat, sholat, dan makan

09.00 – 12.00 : Pengambilan data

12.00 – 13.00 : Istirahat, sholat, dan makan

13.00 – 18.00 : Pengambilan data

18.00 – 24.00 : Jam bebas dan packing barang bawaan

06 Agustus 2015

00.00 – 05.00 : Istirahat

05.00 – 06.15 : Sholat dan persiapan pulang

06.15 – 07.00 : Makan dan perjalanan menuju Dermaga Pulau Kelapa

07.00 – 10.30 : Perjalanan dari Dermaga Pulau Kelapa menuju Dermaga Kali Adem

10.30 – 14.00: Perjalanan dari Dermaha Kali Adem menuju Bandung

 

 

Rincian dana:

Biaya transportasi kapal (Kali Adem – Pulau Harapan):

Rp50.000/orang x 10 orang = Rp500.000

Biaya transportasi kapal (Pulau Kelapa – Kali Adem)

Rp50.000/orang x 10 orang = Rp500.000

Bensin

Rp250.000/mobil x 2 mobil = Rp500.000

Biaya jalan tol Pasteur-Cipularang

Rp48.500/mobil/masuk x 2 mobil x 2 masuk = Rp194.000

Biaya tol dalam kota

Rp8.000/mobil/masuk x 2 mobil x 2 masuk = Rp32.000

Parkir di Pelabuhan Kali Adem

Rp50.000/mobil/malam x 2 malam x 2 mobil = Rp200.000

Sewa home stay

Rp450.000/malam x 2 malam– diskon Rp50.000 = Rp900.000

Sewa alat selam

Rp750.000

Makan pagi 05 Agustus 2015

Rp6000/orang x 10 orang = Rp60.000

Makan malam 05 Agustus 2015

Rp9000/orang x 10 orang = Rp90.000

Linggis

Total pengeluaran

Rp3.812.000

 

Rp35.000/barang x 2 barang = Rp70.000

Masuk Kali Adem

Rp2000/orang x 10 orang = Rp20.000

Berawal dari sebuah mimpi kecil kami untuk melakukan sebuah ekspedisi, mengalami berbagai rintangan dari mulai ketidaktahuan tentang ilmu, tidak adanya alat survey untuk digunakan, kesulitan dana, hingga tetes bensin pertama yang diubah menjadi jarak oleh mobil Ikram dan Arif, begitulah sedikit kilas balik proses kami hingga hari keberangkatan Ekspedisi Pulau Kelapa. Ya, setelah survey pertama kami mendapatkan lokasi penelitian dengan bantuan sangat besar dari Pak Zainal Abidin, ekspedisi ini dibuat dengan maksud pengambilan data infografis juga peninjauan satu blok terumbu karang dan ekosistem di sekitarnya untuk identifikasi juga tinjauan awal untuk penanaman terumbu karang.

Tiba di dermaga Pulau Harapan sekitar pukul 11.00 tanggal 04 Agustus 2015, langkah kami langsung ditujukan untuk bertemu Pak Zainal. Silaturahmi adalah hal utama, berteman dengan siapapun bukan untuk maksud tertentu, hanya sebuah hubungan sosial sederhana manusia. Pak Zainal tidak menyambut kami sebagai seorang peneliti, dia memperlakukan kami sebagai tamu dengan keramahtamahan khas orang pulau, dan ternyata kedatangan tim ke Pulau Kelapa menjadi salah satu pembicaraan antar orang di sana. Cukup dengan berkata “tamu dari Pak Aji Tabrani” sudah memberikan informasi yang cukup untuk warga sana jika bertanya tentang maksud tujuan kami berkeliling pulau. Pak Aji Tabrani merupakan ayah dari Pak Zainal dan merupakan mantan Pak Camat Kepulauan Seribu Utara, juga seorang terpandang di sekitar Pulau Kelapa dan Pulau Harapan.

Perbincangan awal yang diangkat oleh Pak Zainal bukan menanyakan apa yang akan kami lakukan di sana, namun beliau bercerita tentang masalah Pulau Kelapa yang sedang dia urus yaitu penggusuran beberapa home stay di dekat Royal Beach (sekitar barat daya Pulau Kelapa) yang dianggap menyalahi aturan pembangunan pemukiman di pesisir. Penggusuran tersebut rencananya akan berlangsung tanggal 05 Agustus 2015, dengan pengeksekusian dipimpin oleh Pemkab Administrasi Kepulauan Seribu. Dengan jiwa sosial yang tinggi antar penduduknya, tentu warga Pulau Kelapa menentang penggusuran tersebut dengan dalih reklamasi yang dilakukan oleh Surya Paloh pada pulaunya yaitu Pulau Kaliage tidak mengalami pemberhentian dan reklamasi yang dilakukan oleh pemiliki home stay juga akan diperlakukan sama oleh pemerintah, namun kenyataannya warga salah dan Surya Paloh bisa benar.

Perbincangan tersebut kami lakukan di home stay kami di dekat dermaga utara Pulau Kelapa. Setelah berbincang sejenak dengan Pak Zainal dan beliau izin kembali rapat dengan warga, kami melakukan briefing sekitar pukul 13.00 lalu dilanjutkan makan siang hingga pukul 14.00 dan langsung melakukan kerja, produktif bukan?

Sesuai dengan apa yang sudah kami rencanakan, saat pengerjaan hari pertama tim akan dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama yang terdiri dari Taufik, Raihan, dan Amar akan menyusuri garis pantai Pulau Kelapa untuk mendapatkan data garis pantai, kelompok dua yang terdiri dari Arif, Choky, Fadli, dan Farhan akan menyisir tiap jalan besar yang menjadi arteri perlintasan warga dan orang yang melintas (bukan jalan kecil seperti celah antar dua rumah atau jalan setapak kecil buatan warga sebagai penghubung antar rumah) untuk tracking jalan dan plotting tempat penting seperti kantor administratif,tempat pelayanan warga, swalayan dan warung serba ada, dan tempat ibadah. Sedangkan kelompok tiga yaitu Ikram, Samuel, dan Plus melakukan cek tempat untuk identifikasi terumbu karang dengan bantuan saran dari Pak Zainal.

Di sela pengambilan data, kelompok satu sempat berbincang dengan seorang ibu yang mengurus pembibitan tanaman bakau. Sesuai penuturan ibu tersebut, pembibitan tanaman bakau dilakukan oleh ibu-ibu Pulau Kelapa dibawah pengawasan PHPA (perlindungan alam dan pelestarian alam) Kepulauan Seribu. Pembibitan tanaman bakau yang sangat banyak tersebut didapat dari dana pemerintah dan sumbangan beberapa stake holder sekitar Pulau Kelapa seperti CNOOC dan Surya Paloh. Penasaran dengan aktivitas pembibitan bakau ini, kami menanyakan hal tersebut lebih lanjut ke beberapa warga sekitar termasuk Pak Zainal. Ternyata, asal pasir untuk reklamasi Pulau Kaliage milik Surya Paloh berasal dari sekitar Pulau Kelapa, sehingga untuk menutupi kerusakan alam yang dihasilkan akibat pengerukan tersebut, Surya Paloh mendonasikan 20000 bakal bibit tanaman bakau untuk ditanam di sekitar Pulau Kelapa. Ada juga pemberian bibit dari pemerintah Kota Jakarta melalui PHPA Kepulauan Seribu, dimana dana tersebut digunakan untuk membeli bakal bibit bakau yang kemudian dikirm ke Pulau Kelapa.

Dengan potensi penanaman bakau yang masih besar di Kepulauan Seribu, sebenarnya pembudidayaan tanaman bakau merupakan opportunity yang cukup menjanjikan untuk dilakukan oleh warga. Jika warga Pulau Kelapa melakukan budidaya tanaman bakau maka warga pulau-pulau sekitar tidak perlu membeli ke Jakarta dan akan menghemat cost untuk melakukanpenanaman bakau. Belum lagi jika ada pemberian dana seperti dari CNOOC dan Surya Paloh, warga Pulau Kelapa bisa memanfaatkan dana tersebut lebih efektif ketimbang harus membeli bakal bibit terlebih dahulu dari Jakarta.

Tidak mudah untuk menyusuri Pulau Kelapa khususnya untuk pengambilan data garis pantai. Di banyak sisi terluar pulau bukan dipenuhi vegetasi bakau atau pantai pasir, tapi ditutupi oleh pemukiman padat warga (terkesan kumuh) dan tempat penimbunan sampah. Akses menuju sisi terluar pulau juga cukup rumit, tidak seperti Pulau Pari atau Pulau Pramuka yang bisa dengan mudah garis pantainya disusuri, namun blokade rumah warga membuat kami harus seperti keluar-masuk pantai agar data yang didapat bisa presisi merupakan garis pantai. Untungnya, warga sekitar tidak sungkan jika kami harus bolak-balik sekitar tempat tinggal mereka untuk mengambil data, malah kami sering mendapatkan beberapa keluhan warga seperti masalah sampah dan pembangunan MCK. Masalah sampah menurut kami adalah salah satu masalah utama di Pulau Kelapa. Di beberapa titik tempat tinggal warga terdapat timbunan besar sampah, juga saluran-saluran air warga dipenuhi sampah plastik. Menurut warga, hal ini disebabkan karena kecilnya kapal pengangkut sampah walaupun kapal tersebut datang setiap hari. Pengambilan sampah oleh kapal tersebut juga bergilir dari sisi-sisi tempat timbunan sampah di Pulau Kelapa. Sebenarnya di Pulau Kelapa sudah terdapat tempat pembakaran sampah menggunakan alat khusus pembakarnya, namun alat tersebut belum berfungsi karena masih mengalami kerusakan mesin. Alat tersebut diharapkan warga dapat mengatasi permasalah sampah di sana, karena jika terlalu lama dibiarkan bisa menimbulkan wabah penyakit yang akan menyerang warga.

Hari kedua ekspedisi adalah waktunya pengambilan data terumbu karang. Plot awalnya adalah keliling perairan sekitar pulau untuk mengetahui tutupan terumbu karang di sana, lalu melakukan identifikasi kesehatan terumbu karang, dan pengambilan video untuk identifikasi ekosistem di satu blok perairan yang memiliki tutupan terumbu karang yang tinggi. Namun dengan bantuan Pak Zainal, maka tim diving atau kelompok tiga tidak perlu berkeliling pulau untuk mengetahui tutupan terumbu karang karena Pak Zainal mengetahui dengan pasti dimana tutupan terumbu karang di sekitar Pulau Kelapa. Blok lokasi penelitian sama seperti yang ditentukan pada survey sebelumnya, yaitu sekitar 50 meter ke arah utara dari Dermaga Pantura atau sekitar barat laut Pulau Kelapa. Diving dimulai sekitar pukul 11.00, dengan rincian jobdesc Plus dan Samuel melakukan identifikasi kesehatan lalu Ikram mengambil video. Garis pengambilan data tersebut terbentang sekitar 30 meter.

Tim darat yaitu kelompok satu dan dua melakukan wawancara kepada warga sekitar untuk mengetahui kondisi alam yang biasa terjadi, social mapping, dan analisa kebutuhan warga dari beberapa narasumber. Beberapa masalah yang terjadi di Pulau Kelapa sudah dituturkan pada paragraph-paragraf sebelumnya, adapun masalah lain yang sering disebutkan narasumber kami adalah kepayauan air yang didapatkan warga dari sumur dan PDAM, khususnya ketika musim kemarau. Pada tahun 2010, perwakilan mahasiswa UNPAD membuat sumur bor di daerah barat pulau, awalnya sumur tersebut mampu memenuhi kebutuhan warga berupa air bersih yang tidak payau, namun hal tersebut tidak berlaku lama, karena beberapa bulan kemudian air sumur tersebut menjadi payau dan akhirnya hingga sekarang sumur tersebut lebih sering mengeluarkan air payau ketimbang air tawar. Kebutuhan air bersih untuk warga berusaha dipenuhi pemerintah dengan memberikan filter air untuk mengubah air dari laut menjadi air tawar layak konsumsi yang terdapat di Pulau Kelapa Dua. Namun, debit air yang dihasilkan di sana tidak bisa memenuhi seluruh kebuthan air tawar bersih warga. Kondisi saat ini adalah air tawar bersih hanya digunakan kebanyakan warga untuk dikonsumsi, sedangkan untuk MCK warga masih menggunakan air payau, sama seperti yang terjadi di home stay kami dimana air yang terdapat di toilet merupakan air payau.

Untuk bidang perikanan, nelayan-nelayan di Pulau Kelapa menggunakan cara lama yaitu menenggelamkan batang pohon kelapa (warga sana menyebutnya dengan rumah kelapa) yang masih memiliki daun agar ikan-ikan tertarik untuk datang ke sana, lalu dengan plotting tempat penenggelamannya mereka kembali datang untuk menjaring ikan yang datang ke sana. PHPA pernah membuat rumah kelapa sintesis sebagai alternatif agar tahan lama, namun hal tersebut gagal karena kembali menurut warga, ikan-ikan tertarik untuk datang ke rumah kelapa bukan hanya karena bentuknya atau strukturnya, namun binatang kecil yang ikan tangkapan nelayan makan sangat menyukai daun kelapa oleh karena itu di sekitar rumah kelapa banyak makanan yang bisa ikan makan sehingga ikan-ikan tangkapan nelayan beramai-ramai datang ke sana. Selain menggunakan rumah kelapa, mereka juga menangkap di daerah yang turun-temurun diwariskan leluhur mereka. Untuk pembudidayaan, Pulau Kelapa Dua merupakan lokasi terdekat budidaya ikan, bahkan bukan hanya ikan namun penyu juga dibudidayakan di sana. Hasil tangkapan nelayan kebanyakan langsung diangkut ke Muara Angke untuk di jual di sana, tapi jika hasil tangkapan nelayan tidak begitu banyak maka mereka hanya menjualnya di dermaga pulau. Jenis hasil tangkapan nelayan adalah ikan ekor kuning, ikan tongkol, ikan kembung, ikan teri, ikan tenggiri, dan cumi. Beberapa warga mendapatkan ikan dari nelayan dengan sistem booking, ada juga industri rumahan seperti ikan asin dan nugget ikan mendapat suplai ikan secara pasti dari nelayan-nelayan langganan mereka.

Menyangkut kembali masalah nelayan, sekitar 70% dari nelayan ketika puncak angina musim timur dan barat tidak pergi melaut, dengan alasan keselamatan dari nelayan itu sendiri. Adapun ketika musim angin timur seperti ketika ekspedisi ini berlangsung, nelayan-nelayan yang pergi melaut tidak mendapat hasil maksimal alias pendapatan mereka menurun. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa mayoritas laki-laki di Pulau Kelapa bekerja sebagai nelayan. Efek domino dari ketika nelayan tidak pergi melaut atau saat tangkapan ikan sedikit adalah perputaran uang di Pualu Kelapa akan menurun pula karena nelayan-nelayan yang menganggur tidak memiliki pekerjaan lain selain sebagai nelayan. Hal tersebut membuat pedagang-pedagang ketika masa sulit ikan cenderung dihutangi oleh keluarga nelayan dan bukan hanya dihutangi namun warung mereka lebih sepi ketimbang saat tangkapan ikan berlimpah. Untuk menyiasati hal tersebut beberapa warga kadang berpindah profesi, seperti menjadi kuli bangunan di Jakarta untuk sementara waktu atau memulung sampah plastik untuk dijual atau dikilo.

 

Jurnal Pulau Kelapa : Survey Pertama

REKAPITULASI

Waktu Perjalanan: 3-4 April 2015

Tempat Keberangkatan; Bandung

Peserta: 4 orang (Amar Yusuf, Muhammad Ariefiandi, Muhammad Ikram, dan Taufik Rachman)

Barang Bawaan:

  • GPS
  • Kebutuhan Pribadi
  • Alat Snorkle (1 unit)

Tujuan Lokasi: Pulau Harapan dan Pulau Kelapa

Interval Perjalanan: Jumat, 3 April 2015 pukul 02.00 WIB – Sabtu, 4 April 2015 pukul 16.40 WIB

Kendaraan: Kendaraan pribadi dan sewa kapal

  1. Log Perjalanan

02.00-04.50                 Berangkat dari Bandung (Cisitu) hingga sampai di Pelabuhan Muara Angke

04.50-07.00                 Istirahat dan sholat di Pelabuhan Muara Angke

07.00-08.10                 Mencari kapal sewaan hingga dapat tempat duduk

08.10-11.35                 Perjalanan menuju Pulau Harapan

11.35-13.20                 Makan siang, sholat, dan perjalanan menuju rumah Pak Aji Tabrani (orang yang dituakan di sekitar Pulau Harapan dan Pulau Kelapa)

13.20-15.00                 Berbincang dengan Pa Udin (orang APL sekitar Pulau Kelapa)

15.00-17.00                 Cek lokasi penanaman, dipandu Pa Udin

17.00-19.30                 Istirahat , makan, dan mandi

19.30-23.00                 Mencari informasi dan masukan dari penduduk, informan dari Pak Udin dan Pak Ican

23.00-05.30                 Istirahat

05.30-06.15                 Bersiap pulang

06.15-07.00                 Pamit dan perjalanan menuju kapal (Pelabuhan Pulau Kelapa)

07.00-10.30                 Perjalanan menuju Pelabuhan Muara Angke

10.30-11.30                 Perjalanan menuju Outfest

11.30-14.00                 Singgah di Outfest

14.00-16.40                 Perjalanan pulang menuju Bandung

 

  1. Pengeluaran
No Barang/Jasa Harga
1 Bensin Rp230.000
2 Alat Snorkle (3 Unit) Rp75.000
3 Masuk jalan tol Rp129.000
4 Tiket Kapal Rp360.000
5 Kopi Rp16.000
6 Parkir Mobil (satu malam) Rp70.000

 

Total Pengeluaran: Rp880.000,00

HASIL SURVEY

  1. Fiksasi lokasi penanaman terumbu karang

Lokasi: Pulau Kelapa (Bagian Barat Laut)

 

Koordinat: 5.6550 LS – 106.5640 BT

Untitled1.png

Untitled2.png

Lokasi Pulau Kelapa di Kepulauan Seribu (gambar atas) dan lokasi yang akan dilakukan penanaman koral (gambar bawah)

Sumber: Google Earth

2.   Continue reading “Jurnal Pulau Kelapa : Survey Pertama”

Sudah Benar-Benar Merdekakah Bangsa Ini?

 

Oleh: Faizal Ardianto / Oseanografi (12913023)

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Avilliani SE, MSi, mengatakan suatu bangsa dikatakan memiliki jati diri dan karakter yang kuat apabila memiliki kemandirian ekonomi. Kemandirian ekonomi diartikan sebagai bangsa yang memiliki ketahanan ekonomi terhadap berbagai macam krisis dan tidak bergantung pada negara lain.

Menurut Aviliani, Indonesia memiliki banyak potensi yang harus dikembangkan untuk menggerakkan perekonomian nasional, baik Sumber Daya Alam (SDA) maupun SDM.

“Apabila potensi yang ada ini dioptimalkan, saya yakin kita bisa lebih maju dari sekarang dan mandiri secara ekonomi. Pasar kita luar biasa mencapai 200 juta jiwa lebih,”

Dengan jumlah pasar sebanyak itu terciptalah peluang pasar yang besar pula. Kepala Lembaga Riset dan Penelitian Universitas Sumatera Utara (USU) Armein,  memperkirakan  60 persen dari total populasi nasional berusia produktif. Hal itu memicu sering terjadinya individu yang berpindah-pindah pekerjaan. Berbeda dengan negara-negara seperti Jepang dan Amerika, di mana populasi terbesar malah dihuni oleh kaum non produktif, sehingga angka pencari kerja cukup minim. Dengan melimpahnya penduduk usia produktif maka seharusnya produktifitas dari segi industri melonjak.

Saat ini, di tingkat global, pendidikan memainkan peran yang sangat signifikan dalam membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Menurut Irman Gusman ukuran sumber kemakmuran suatu bangsa sudah tidak ditentukan oleh comparative advantage, yakni; kecerdasan (BRAIN POWER), visi dan mimpi-mimpi besar (DREAM), semangat pantang menyerah (SPIRIT), dan rasa percaya pada kekuatan sendiri/kekuatan dalam negeri (CONFIDENCE). Karena itu sumber daya Indonesia merupakan modal dasar untuk mencapai kemakmuran di masa depan. Namun sayangnya, masih banyak orientasi dari SDM terdidik hanya sebatas menjadi pegawai saja. Wakil Rektor Universitas Indonesia Bambang Wibawarta bahkan mengakui, sistem pendidikan di Indonesia kurang sukses menanamkan kesadaran berwirausaha. Dampaknya, jumlah masyarakat berminat menjadi pengusaha sampai sekarang masih minim. Akibat dari minimnya kesadaran berwirausaha, lulusan sekolah di negara ini, menurut Bambang kurang bermental baja dalam pekerjaan.

“Lebih cenderung melahirkan orang-orang yang pandai membuat perencanaan dibandingkan orang yang tipe pekerja.”

Lalu melihat dari segi SDA, dengan segala potensi sumber daya alam yang kita miliki saat ini sudah seharusnya kita sanggup mencakupi semua kebutuhan dalam negeri, tidak perlu bergantung pada bantuan asing, mandiri dalam bidang pangan, energi, pengelolaan sumber daya alam hingga memiliki ketahanan nasional untuk bersaing di era globalisasi. Namun bagaimana kenyataannya? Kenyataan yang kita hadapi sekarang justru masih sama seperti ucapan Bung Karno yang menulis di Harian Suluh Indonesia pada tahun 1930 tentang ciri-ciri ekonomi negeri jajahan. Pertama, negeri tersebut dijadikan sebagai sumber bahan baku murah oleh negara-negara industry dan kapitalis yang menjajahnya; kedua, dijadikan sebagai pasar untuk menjual produk-produk hasil industri Negara penjajah; dan, ketiga,  negeri jajahan dijadikan tempat memutarkan kelebihan kapital mereka demi mendapatkan rente. Realita yang diungkapkan Bung Karno lebih dari 85 tahun yang lalu tidak banyak berubah. Lihat saja berapa banyak perusahaan minyak di Kalimantan, atau bagaimana Freeport menguasai lahan tambang di Papua. Kita semua tahu  sampai kini kekayaan alam kita masih dijual murah kepada bangsa asing, bahan baku dan bahan mentah yang dihasilkan bumi Indonesia juga masih terus mengalir ke luar negeri untuk memasok kebutuhan industri negara lain yang lebih maju. Indonesia sudah hampir 70 tahun merdeka namun kondisinya tak jauh beda.

Sebaliknya, dengan jumlah pasar kita yang begitu besar bangsa kita dikenal sebagai konsumen terbesar industri, elektronik maupun barang-barang teknologi dari negara-negara industri di luar sana.  Negara kita adalah konsumen handphone terbesar ketiga, dan salah satu pasar mobil dan sepeda motor terbesar di dunia. Lihatlah betapa mudahnya orang untuk membawa pulang sebuah motor baru, hanya dengan dp sebesar 500 ribu rupiah dan fotokopi KTP, motor sudah dapat dibawa jalan-jalan bersama sanak famili. Atau lihatlah cicilan mobil dengan bunga yang sangat rendah. ironisnya barang-barang itu dihasilkan oleh industry di luar negeri walaupun bangsa kita sendiri sebenarnya mampu untuk membuat produk-produk tersebut. Namun karena rendahnya political will pada individu di pemerintah pusat maupun daerah hal ini juga menyebabkan seretnya industry dalam negeri. Artinya, kita sejatinya belum menjadi Negara yang seutuhnya mandiri dalam mengelola semua sumber daya alam dan sumber daya ekonomi yang kita miliki. Sehingga benar-benar sudah dapat dikatakan merdekakah bangsa ini?

 

 

 

Daftar Pustaka

http://swa.co.id/business-strategy/menteri-koperasi-dan-ukm-wirausaha-di-indonesia-harus-bisa-mencapai-2-dari-total-populasi

http://www.uinjkt.ac.id/index.php/arsip-berita-utama/1358-avilliani-jati-diri-bangsa-terletak-pada-kemandirian-ekonomi.html

http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67

http://www.merdeka.com/uang/4-sebab-jumlah-wirausaha-indonesia-sulit-bertumbuh.html

Bukan Hanya Gila Kaderisasi

Oleh :

Ardy Kusuma

12911009/1112001B

 

Bukan maksud menggurui, hanya membagi pandangan.

 

“Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.”

(Pidato HUT Proklamasi 1966, Soekarno)

Atas dasar evaluasi dan refleksi dari pengalaman sebelumnya dan kecintaan buta pada sesuatu yang tidak berwujud yang akrab kita panggil HMO ‘TRITON’ ITB, dengan sadar saya tulis sedikit pandangan saya mengenai sesuatu yang kita pelajari tanpa diajarkan. Berharap tulisan ini ada gunanya sedikit.

Mulialah kita yang memikirkan hal-hal seperti yang tersirat pada judul. Entah mulia yang seperti apa, tapi memikirkan hal selain tugas akhir ataupun hal-hal akademis lainnya demi kepentingan orang lain menurut saya adalah hal yang mulia. Walaupun dalam konteks ini mulia dan bodoh memang sedikit beda tipis, karena kita tidak dibiayai oleh orang tua untuk memikirkan kepentingan orang lain kan? Beasiswa pun tidak memaksa kita untuk memikirkan hal ini kan? Pada tulisan ini saya mencoba menyampaikan pandangan pribadi saya mengenai pembelajaran di setiap harinya, atau saya sebut dengan kaderisasi. Sebuah topik yang selalu jadi “top chart” obrolan di tiap lembaga. Sebuah topik yang masih menjadi favorit massa kampus ganesha dalam hal memikirkan kepentingan orang lain.

Gila kaderisasi?

Jika mendengar kaderisasi, pasti sebagian orang akan berkaca pada kegiatan kampus seperti OSKM ataupun osjur himpunan. Kaderisasi sering diartikan sebagai kegiatan eventual. Ada juga yang yang secara langsung mengingat kaderisasi sebagai wadah para senior “berinteraksi” dengan  juniornya, walaupun alasannya adalah transfer ilmu atau sekedar mengajarkan berpikir di bawah tekanan. Saya  pribadi tidak bilang semua itu salah. Hanya saja yang mau saya tekankan disini adalah kaderisasi sebagai “kegiatan belajar”. Belajar mengenai sesuatu yang tidak diajarkan di kelas, sesuatu yang tidak harus secara tersurat diajarkan, dan sesuatu yang tidak ada paksaan untuk belajar. Cuma soal belajar saja. Belajar dan melakukan transfer ilmu, mengenai segala hal. Terutama hal-hal yang tidak diajarkan di kelas. Memanusiakan manusia dalam tiap prosesnya.

Ada fenomena unik terjadi di kampus ganesha ini (asumsikan kampus jatinangor  juga termasuk  kampus ganesha). Kampus yang diisi oleh (katanya) sebagian besar orang-orang pintar seantero Indonesia ini seharusnya mengagungkan keilmuannya. Para mahasiswa nan unggulan ini selayaknya berlomba-lomba dalam memamerkan karya-karyanya. Para calon pemimpin ini sewajarnya memaksimalkan potensi-potensi keilmuannya kepada masyarakat. Tapi menurut saya kenyataannya tidak begitu. Keilmuan bukanlah hal yang menjadi topik panas yang disukai oleh setiap individu massa kampus. Keilmuan kadang hanya sekedar sesuatu yang mereka kejar di kelas lewat indeks prestasi. Mungkinkah  kemewahan dari keilmuan itu hanya milik mereka yang sesuai dengan pilihan pertama penjurusan? Tapi yang jelas terlihat dari forum-forum yang terjadi di kampus, forum soal kaderisasi, OSKM, ataupun ospek jurusan dalam skala himpunan, selalu menghadirkan massa yang lebih banyak (dengan kondisi tanpa harus memaksa massa untuk datang). Beberapa orang bahkan sering kali berucap bahwa kaderisasi adalah setengah nyawa dari sebuah organisasi. Anggapan ini sekilas menyiratkan bahwa organisasi di kampus ini, cenderung gila kaderisasi.

Bukan ingin melarang, atau menganggap kaderisasi di atas keilmuan ini salah. Tidak ada yang mengatur mana yang benar dan mana yang salah. Jika keilmuan bukan yang diutamakan oleh massa kampus ganesha,  itu tidak bisa secara langsung juga diubah. Ada tahap-tahap dasar yang bisa diperbaiki, untuk menunjang keilmuan nantinya. Dasar-dasar ini menurut saya bisa didapat lewat pembelajaran dan melalui transfer ilmu dari tiap individu massa kampus.

Pandangan saya berikutnya lebih mengarah kepada bagaimana para lembaga ataupun sistem yang berlaku, memanfaatkan atensi  terhadap kaderisasi dari massa ini ke sesuatu yang progresif dan produktif. Bagaimana seharusnya sistem dan metode yang kita miliki beserta para lembaga terkait selaku stakeholders saling bahu membahu dalam melakukan transfer ilmu ke setiap individu. Kita mungkin gila kaderisasi, tapi berangkatlah dari kegilaan itu dan ciptakan kader-kader yang mampu bergerak dan berkarya.

Berangkatlah dari Dasar-Dasar

Untuk mereka yang akan mengkader para kader nantinya. Sebelumnya saya ingin mengingatkan, bahwa kalian pun masih dalah proses kaderisasi, hanya saja beda tahapan. Jangan pernah berangkat terlalu jauh, belajarlah dulu dari dasar-dasar yang ada di sekitar. Sesungguhnya dasar-dasar yang ada bukanlah literatur kaku yang dibuat untuk mengikat, hanya sebuah koridor yang membantu kita dalam proses ke depan. Coba tengok dokumen Sinergisasi Kaderisasi dari Kabinet KM-ITB 2014/2015. Dokumen tersebut menjelaskan realita dengan baik apa yang terjadi di tataran kampus pada masa ini. Semua elite lembaga membaca namun tidak semua paham. Alhasil banyak yang menyalahi sistem yang dikira tidak cocok, padahal apakah kita sudah paham dengan sistem tersebut? Ada pula yang terkesan menyalahi metode. Apa benar metode yang diterapkan mengacu ke dasar?

Coba tengok Konsepsi KM-ITB dan AD/ART KM-ITB. Seharusnya dasar dari kegiatan yang kita lakukan semua sesuai dengan koridor yang dicantumkan. Koridor yang dibuat bukanlah sebuah koridor yang sempit. Coba tengok juga Rancangan Umum Kaderisasi KM-ITB sekali lagi. Walaupun dianggap produknya perlu dikaji, tapi apakah tahapan yang dibuat itu salah? Coba pahami dan pelajari.

Nilai – Nilai Umum Kaderisasi

Nilai-nilai yang diterapkan pada kaderisasi selayaknya adalah ilmu yang didapatkan di luar kelas. Sebuah ilmu yang lahir bukan cuma dari teori, tapi juga cerminan realita. Terkesan ada sedikit ironi jika mengacu pada bahasan sebelumnya soal berkarya sesuai keilmuan. Tapi menurut saya pribadi, dalam belajar ada banyak hal yang bisa didapat di luar dari kelas. Ada ilmu yang tidak bisa diambil dari papan tulis bertuliskan rumus dan teori-teori. Ada ilmu yang tidak diajarkan dosen-dosen, tapi saya yakin mereka mengharapkan itu ada. Maka itu, coba tengok dasar-dasar yang dibahas sebelumnya. Disitu terdapat nilai-nilai yang harus dijunjung oleh mahasiswa. Sudah terdapat koridor untuk mahasiswanya berkembang dalam dasar-dasar tersebut. Ya kalau tidak begitu apa bedanya siswa dengan mahasiswa? Ada alasan tertentu kenapa di Indonesia dibedakan, sementara secara global semua disebut sama sebagai student.

Memanusiakan manusia. Sebuah ungkapan favorit  jika kita berbicara soal nilai yang harus dijunjung dalam kaderisasi. Sebuah ungkapan kata yang menurut saya sudah merangkum semua materi yang diajarkan pada pelajaran Pendidikan Kewarnegaraan dulu saat SD.  Coba tengok buku PPKN saat sd, baca dan lihat keadaan sekitar. Tidak perlu dijelaskan secara detail, tapi coba cari nilai-nilai yang dapat membedakan homo sapiens dengan human, den membedakan siswa dengan mahasiswa.

Tanamkan nilai-nilai kemanusiaan itu lewat proses belajar yang tidak cuma eventual tapi juga sehari-hari. Berangkat dari bagaimana seharusnya manusia bertindak. Kata-kata seperti tolong menolong, persatuan kesatuan, kebersamaan, dan lain sebagainya itu bukan hal yang mudah untuk ditanamkan. Sangat mudah untuk diucapkan, sementara realitanya kadang manusia terlalu egois untuk hanya memikirkan dirinya sendiri. Sifat-sifat itu hanya contoh semata, masih banyak hal lainnya. Berangkat dari nilai-nilai tesebut kita bisa bergerak lebih. Menciptakan karya yang tepat guna dan melakukan pengabdian masyarakat hanya akan menjadi penggugur kewajiban atau hanya program belaka, jika nilai-nilai kemanusiaan saja tidak coba untuk disisipkan.

Selain memasukkan nilai-nilai kemanusiaan, menurut saya dalam kaderisasi kita harus membuka pandangan seluas-luasnya kepada teman-teman sekitar mengenai apa yang terjadi di luar pagar kampus ini. Realita bangsa yang terkini tidak akan keluar begitu saja di textbook kuliah. Secara gambaran mereka hanya muncul di surat kabar dan layar televisi. Buat apa membuat karya yang katanya akan menjawab permasalahan bangsa jika permasalahannya saja tidak tahu. Mengaku mahasiswa oseanografi, apakah kalian tahu isu-isu terkini soal laut Indonesia? Ditanya soal perbudakan yang kerap mengancam batas wilayah laut Indonesia saja banyak yang tidak tahu. Itupun masih bagus karena sesuai keilmuan. Bagaimana dengan isu lain? Untuk menyikapi permasalahan bangsa tidak bisa dari satu topik masalah kan? Tidak usah jauh-jauh berbicara soal bangsa, ada permasalahan kemarin di internal kampus soal pemilihan K3M pun tidak banyak yang peduli. Silahkan kalian gila kaderisasi, tapi kalau tidak peka sekitar, kaderisasi buta namanya.

Superteam Above Superman

Berbicara soal kaderisasi jangan pernah lupa untuk satu persatu mempelajari setiap individu di dalamnya. Jangan pernah lupa untuk menganalisa segala hal dan kondisi yang dapat mempengaruhi satu sama lainnya. Analisa kondisi dari mulai apa yang terjadi , apa yang dibutuhkan, bagaimana solusinya, sampai output yang diharapkan. Jangan pernah berjalan buta seenak hati saja, ini bukan bagaimana caranya menggurui seseorang. Secara general, salah satu yang  ingin saya bahas  adalah bagaimana sebuah organisasi menyatukan berbagai macam kepala. Salah satu poin yang cukup penting dari analisa yang saya lakukan di HMO ‘TRITON’ ITB beberapa tahun kebelakang.

Superteam. Sebuah hal yang menurut saya maknanya bukan sekedar sebuah sistem yang diisi oleh kumpulan orang yang bisa bekerja sama dengan baik. Superman disini pun anggaplah seorang individu yang bisa survive dengan caranya sendiri baik di organisasi ataupun kegiatan lain. Hal yang saya ingin bahas disini adalah mengenai superteam sebagai kebersamaan. Kebersamaan mungkin kata-kata klasik yang sering dipakai banyak orang. Kalau di kampus kita mungkin kata kekeluargaan banyak menghiasi dasar-dasar lembaga, tapi saya prefer untuk memakai kata kebersamaan.

Kuliah di osenografi dan berteman di HMO ‘TRITON’ ITB memberikan pandangan yang cukup menarik. Bahkan setelah sharing dengan lembaga lain, kondisinya cukup berbeda. Kenyataan bahwa oseanografi diisi oleh 40 orang saja dan banyak yang bukan pilihan pertama, terpaksa pilihan pertama, ataupun “ditempatkan” oleh prodi, memberikan dampak yang cukup besar. Salah satu dampaknya cukup terasa pada keinginan para mahasiswa oseanografi dalam mengembangkan ilmu dan membuat karya di luar kegiatan prodi. Sebuah dampak yang dibanding dengan himpunan/prodi lain kita cukup kurang. Tapi bukan itu poin yang saya angkat. Ada poin yang cenderung lebih berbahaya dan harus diutamakan.

Dampak ini harus dijawab pada gerbang kaderisasi awal, atau biasa kita kenal dengan Diksar. Diksar harus melalui analisa yang lebih jauh karena kita berhadapan dengan teman-teman yang sebelumnya kita kurang mengenal. Tidak bisa dijawab dengan materi dan metode yang asal comot saja. Karena poin yang berbahaya ini berhubungan dengan daya juang mereka selaku mahasiswa oseanografi dan calon massa HMO ‘TRITON’ ITB. Sangat sulit jika kita dipaksa mengerjakan sesuatu yang belum tentu sesuai minat kita, baik kegiatan perkuliahan ataupun himpunan. Kegiatan himpunan memang biasanya sudah disesuaikan dengan analisa kondisi seperti ini, sehingga banyak massa Triton yang malas dalam perkuliahan tapi aktif di kegiatan himpunan. Apakah akan terus seperti ini? Lalu saat kegiatan himpunan tidak bisa dijadikan pengikat, mau bagaimana? Semua tidak selalu bisa dijawab dengan kegiatan himpunan yang hura-hura saja. Tidak bisa diselesaikan dengan hanya main ping-pong di selasar labtek biru saja.

Bonding massa Triton. Diksar menurut saya pribadi utamanya harus memberikan materi dan metode yang bersifat bonding. Di samping poin lainnya yang harus dijunjung, saya merasa poin yang bersifat bonding dan mengarah ke kebersamaan dampaknya paling terasa selama ini. Dampaknya bertahan dari awal saya memulai perkuliahan oseanografi, sampai sekarang menulis Tugas Akhir (asumsikan tulisan ini dibuat sambil membuka Matlab di window lain ). Percayalah kalau kebersamaan dan bond yang dibangun selama ini adalah kekuatan kita yang paling unggul. Mungkin ini untungnya memiliki satu angkatan terdiri dari hanya 40 orang, dan massa Triton secara keseluruhan tidak lebih dari 160 orang. Efek dari jumlah yang sedikit ini memungkinkan massa Triton seminimalnya tahu satu sama lain di masa katifnya selaku anggota biasa. Modal yang bagus bukan? Triton yang saya kenal belum menafaatkan modal ini dengan baik, tapi bayangkan kalau dampaknya maksimal. Itu yang saya maksud dengan superteam. Kebersamaan maksimal.

Basi memang kadang bicara tentang kebersamaan. Tapi lihat saja nanti, teman yang dimiliki di sekitar selalu membantu di masa-masa sulit. Kebersamaan ini yang nanti akan membantu krisis daya juang massa Triton. Akan selalu ada bantuan secara otomatis, jika kita dalam kesulitan apapun. Selalu ada perayaan secara insidental saat kesenangan ada. Ya idealnya begitu, tapi saya yakin Triton bisa semenyenangkan itu. Dimana superteam dibangun untuk manfaat sebesar-besarnya secara kontinu ke setiap individu massa. Sebuah poin yang saya anggap selama ini sangat terasa dalam kaderisasi dari mulai diksar, bahkan sampai tingkat akhir. Banyak euforia maksimal yang dirasakan, setelah bekerja keras bersama. Euforia yang tidak ada tandingannya. SebaApa kalian ingat bagaimana Triton FC menembus semifinal dengan comeback di kesempatan terakhir? Bagiaman modal semangat dan kebersamaan dapat memberikan euforia tanpa tanding. Ya itu memang soal olahraga, dan terkesan kurang sesuai konteks. Tapi itu tetap sebuah manfaat, betapa serunya hasil kaderisasi kita nanti. Seperti itulah kemewahan yang Triton punya dan harus diajarkan ke calon massa berikutnya lewat kaderisasi yang bertahap. Ini cuma salah satu poin saja, sisanya andalkan analaisa kondisi sekitar.

Jadi lakukan apapun dengan mata terbuka dan telinga yang mendengar. Jangan asal-asalan. Apapun yang saya ujar pun terserah mau ditanggapi seperti apa. Ini hanya ucapan dan celotehan seorang anggota biasa menanggapi isu kaderisasi yang dianggap menjadi atensi banyak orang. Sekali maaf tidak ada maksud menggurui. Tapi bagi saya kaderisasi itu soal belajar. Belajar menjadi manusia.

Ayo belajar dan selamat hidup.

HMO! TRITON TRITON TRITON!!!

“Aku Lebih suka lukisan Samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem”

Satu lagi dari Soekarno.

Membangun Kembali Legenda Kejayaan Maritim Indonesia

Oleh : Sangkumara Majaya

Para pelaut terbaik tidak dihasilkan dari lautan yang tenang melainkan lautan yang ganas oleh ombak dan badai taufan”.

Leluhur bangsa kita terkenal ulung dalam berlayar hingga ke berbagai belahan dunia.  Namun,  kehebatan mereka tentu tak’kan berarti tanpa didukung oleh armada kapal yang tangguh.  Kapal-kapal terbaik yang digunakan oleh para pelaut ulung itu dihasilkan dari galangan-galangan kapal dinusantara.  Kayu-kayu terbaik hasil bumi pertiwi digunakan oleh pemuda-pemuda terbaik nusantara untuk merakit kapal-kapal terbaik nusantara.  Kapal-kapal tersebut dirakit dengan teknologi mutakhir saat itu.  Kapal-kapal tersebutlah yang menyatu dengan jiwa samudera menghantar leluhur kita mengarungi dunia. Itulah salah satu legenda kejayaan maritimbangsa kita yang kini hanya terdengar sayup-sayup dan mulai dilupakan. Dan kemudian datanglah roh Samudera kepada seorang pemuda Indonesia. Roh Samudera menyampaikan pesan jiwa pelaut-pelaut masa lalu agar pemuda tersebut mengembalikan kejayaan leluhurnya di masa lampau. Dengan restu para pelaut masa lampau dan atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, pemuda itu menjelma menjadiLaksamana Utama sebuah Armada Kapal bernama Negara Republik Indonesia. Pemuda itu adalah Presiden Jokowi. Dengan penghayatan Cakrawati Samudera Soekarno, Presiden Jokowi memulai awal dari sebuah legenda bahari yang baru negeri ini. Presiden Jokowi  bersama para Mahapatihnya akan mengembalikan kejayaan maritim negeri ini pada masa pemerintahannya selayaknya leluhurnya yang memerintah Sriwijaya dan Majapahit.

Kejayaan maritim masa lalu kita dimulai dengan membangun kapal di galangan kapal nusantara. Ibarat membangun kapal, menurut Direktur CSIS Rizal Sukma, kejayaan maritim kita harus dibangun dengan mempertimbangkan lima aspek yaitu: Sumber Daya Maritim, Infrakstruktur Maritim, Diplomasi Maritim, Pertahanan Maritim dan Budaya Maritim.

Sumber Daya Maritim

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam Nawacita-nya, sudah saatnya bangsa ini tidak lagi memunggungi lautan. Sudah saatnya negeri ini membuka diri terhadap laut. Dengan membuka diri, kita akan melihat betapa besarnya potensi kekayaan laut Indonesia. Pemanfaatan laut ini tentu harus memaksimalkan potensi kelautan di setiap daerah pesisir. Presiden Jokowi seharusnya membentuk tim khusus untuk mengkaji sebuah sistem perekonomian berbasis maritim. Sistem perekonomian ini harus menjadi standar perekonomian secara nasional tetapi penerapannya bisa berbeda untuk setiap daerah. Penerapan sistem perekonomian tersebut harus mampu memaksimalkan potensi kelautan utama yang ada di setiap daerah pesisir yang bersifat unik dan ikonik. Potensi kelautan utama itu bisa berupa potensi pariwisata, eksplorasi bahan alam, pelabuhan internasional, perikanan, kebudayaan hingga riset ilmiah. Sistem perekonomian ini tentu akan meningkatkan secara pesat pereknomian masyarakat pesisir yang umumnya tingkat perekonomiannya masih rendah.

Memajukan perekonomian daerah pesisir tentu akan mempengaruhi pertumbuhan perekonomian nasional. Hal ini bisa dilihat dari fakta bahwa sebagian kota-kota besar penggerak perekonomian di negara maju berada di daerah pesisir. Pemanfaatan potensi kelautan secara maksimal tentu akan menjadi fondasi kokoh perekonomian Kapal Indonesia dalam mengarungi hubungan internasional.

Infrastruktur Maritim

Setelah kita membangun fondasi perekonomian kelautan yang kokoh, kita perlu membangun badan kapal yang berfungsi sebagai pelindung fondasi dan mempermudah kapal dalam mengarungi hubungan internasional. Infrastruktur maritim berperan dalam mendukung dan menunjang roda perekonomian nasional. Presiden Jokowi telah menggagas tol laut untuk mengurangi harga barang yang sangat mahal untuk suatu daerah. Presiden juga akan membangun lebih banyak pelabuhan untuk meningkatkan konektivitas antar daerah. Tentu konektivitas ini harus didukung adanya armada kapal yang memadai. Untuk memenuhi armada kapal yang dibutuhkan, Presiden menyatakan pemerintah akan membantu tumbuhnya industri galangan kapal dalam negeri. Beliau juga harusnya berani menginisiasi salah satu daerah pesisir Indonesia di dekat Selat Malaka untuk mengambil alih peran Singapura sebagai dermaga internasional. Pembangunan infrastruktur maritim tentu akan mengundang investasi asing. Investasi asing merupakan kesempatan Indonesia untuk mempererat hubungan persahabatan dengan negara sahabat.

Diplomasi Maritim

Bagian kapal yang selanjutnya harus dibangun adalah bagian layar kapal yang menentukan arah berlayarnya kapal. Diplomasi tentu berperan penting agar negara-negara lain tidak menjadi ombak penghalang bagi kita untuk mencapai tujuan bangsa dan negara. Negara harus menugaskan diplomat-diplomat terbaik bangsa untuk mempermudah bangsa kita mencapai tujuan. Para diplomat berperan sebagai pemberi saran kepada pengambil kebijakan kapan kita harus menerjang badai yang diciptakan negara lain dan kapan kita harus berlayar memalui jalur lain agar tidak hancur ditelan ombak. Diplomasi maritim menciptakan kemungkinan-kemungkinan agar negeri ini tetap dapat berlayar sampai ke tempat tujuan.

Pertahanan Maritim

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, ada saatnya negara lain menjadi ombak penghalang bagi kita untuksampai ke tempat tujuan tetapi tidak ada cara lain selain menerjang ombak tersebut. Pada saat itulah, kita membutuhkan kemampuan pertahanan yang tangguhagar tetap dapat bertahan. Berdasarkan UU Kelautan 2004, Bakamla(Badan KeamananLaut) merupakan badan khusus yang bertugas menjaga keamanan laut dari berbagaigangguan seperti illegal fishing, human trafficking, pembajakan dan lain-lain. PeranBakamla perlu ditingkatkan lagi. Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkankemampuan TNI AL melalui pembaharuan dan peremajaan alutsista. Keberadaan TNI ALtentu sangat diperlukan untuk mengurangi atau pun mengatasi kemungkinan perangakibat konfrontasi negara lain seperti yang dilakukan Tiongkok di Laut CinaSelatan

Budaya Maritim

Setiap pelaut hebat selalu menamai kapal yang ia gunakan untuk berlayar seolah kapal tersebut hidup. Ketika kita telah membangun negara ini sebagai sebuah kapal telah siap berlayar, kita harus memberikan roh pada negara ini agar ia hidup. Roh negara ini tentu ada  pada kebudayaan leluhur yang telah menjiwai perjalanan sejarah bangsa ini. Kebudayaan memberikan kita jiwa bagaimana menjalani hidup. Untuk menjadi bangsa maritim, kita perlu memahami lebih mendalam kebudayaan maritim bangsa kita. Kebudayaan maritim tersebut akan menjadi identitas kita sebagai suatu bangsa maritim. Apalah artinya kita mencapai kejayaan maritim dan menciptakan legenda agung tetapi dunia tak pernah tahu siapa sosok yang ada di legenda itu.

Sekarang Kapal Negara Republik Indonesia telah siap berlayar. Namun, pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi nahkodanya? Menurut ramalan Professor Matullada, seorang pemimpin di atas perahu (baca:kapal) adalah seorang pemimpin tumbuh dari bawah ke atas. Dia tidak didrop dari atas. Dia adalah seseorang yang memiliki pengalaman dari bawahan dan perlahan meningkat menjadi atasan. Kompetensinya transaparan dan teruji serta inkompetensinya tidak dapat disembunyikan. Dia adalah pemimpin mengambil keputusan dengan cepat serta mengkoreksi dengan cepat bila ada kesalahan. Pemimpin tersebut adalah a man of competence, resolution anddignity. Saat ini nahkoda kapal kita adalah Presiden Jokowi. Kapal kita hanya bisa selamat sampai di tujuan apabila beliau adalah sosok Pemimpin di Atas Perahu. Apakah Presiden Jokowi memiliki ciri-ciri tersebut? Yang jelas kita berharap beliau dan generasi kita menjadi nahkoda yang mampu melayarkan negeri ini sampai pada Abad Keemasan kita pada Seratus Tahun Kemerdekaan kita. Mari kita ciptakan legenda kejayaan Maritim kita melebihi Sriwijaya dan Majapahit. Mari kita buktikan! Ayo Kerja! Merdeka!

 Happy National Maritime Day 2015

Sangkumara Majaya

Staff Penelitian dan Pengembangan HMO ‘TRITON’ ITB 2015/2016

KP Session @BPPT

Penentuan Fishing Ground di Perairan Pulau Lombok dan sekitarnya

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang berada dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Kemenristek). BPPT mempunyai tugas di bidang pengkajian dan penerapan teknologi. BPPT memiliki dua kantor utama, yaitu di Jalan MH. Thamrin 8, Jakarta 10340 dan BPPT Puspiptek, Serpong.

Biasanya jarang ada mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang melakukan magang atau kerja praktik di BPPT. Namun atas rekomendasi dari Bapak Prof. Safwan Hadi, tahun 2014 ini terdapat lima mahasiswa Oseanografi ITB yang melakukan kerja praktik di BPPT. Secara garis besar, terdapat dua topic yang ditawarkan, yaitu: pengolahan data oseanografi fisis dan pengolahan data remote sensing. Lama waktu yang dibutuhkan untuk kerja praktik juga berbeda bergantung dengan topiknya, yaitu antara 1 – 2 bulan.

Salah satu topik yang akan dipaparkan pada artikel ini adalah mengenai pengolahan data remote sensing, yaitu tentang fishing ground di perairan sekitar Pulau Lombok.

 

Lokasi pengamatan dan pengolahan data.

 kp1

Data yang dibutuhkan adalah: pola arus, klorofil-a, SST, dan batimetri. Data-data tersebut diperoleh dari satelit. Data klorofil-a dan SST diolah pertama kali menggunakan Seadas 5.4. banyak cara untuk dapat mengahasilkan layout parameter oseanografi di perairan sekitar Pulau Lombok. Namun cara yang dipilih untuk saat ini cukup familiar, yaitu dengan menggunakan aplikasi Arc View, Global Mapper 15, dan Surfer 12. Layout yang dihasilkan adalah pola arus, persebaran klorofil-a dan SST, sea surface height (SSH), serta densitas fishing ground.

Gambar-gambar di bawah ini menunjukkan hasil layout dari parameter di perairan sekitar Pulau Lombok selama musim barat (Desember-Januari-Februari).

 

 

 

 

POLA ARUS KLOROFIL-A
 kp2  kp3
SEA SURFACE TEMPERATURE (SST) FISHING GROUND
 kp4  kp5

 

 

Pengalaman lain:

Selain kita dapat belajar mengenai pengolahan data satelit dan analisis data, kita juaga diberi kesempatan untuk training software-software baru. Software tersebut tentunya sangat bermanfaat khususnya di bidang oseanografi. Selaian itu, kita juga dapat mengasah softskill terutama untuk urusan teamwork, karena kita tidak bekerja sendirian selama kerja praktik, namun masuk menjadi bagian dari suatu tim proyek.

Kejar Ilmu Sampai ke Negeri Cina

“Mengejar ilmu pastinya perlu banyak pengorbanan. Salah satu caranya dimulai dari memberanikan diri. Berani untuk keluar dari zona nyaman dan ikuti kata pepatah ke negeri Cina.”

 

Pada bulan Oktober tahun lalu saya mengikuti pelatihan Marine Eco – Protection yang diselenggarakan oleh Dapartment Science and Technology of Guangxi – China. Pelatihan tersebut diadakan di Universitas Guangxi selama dua minggu. Peserta untuk pelatihan ini berasal dari berbagai negera dan kalangan yang ada di ASEAN. Sebagian besar berprofesi sebagai dosen dan sisanya adalah mahasiswa S2. Saya merupakan peserta termuda yang ada dipelatihan tersebut. Menjadi peserta termuda merupakan tantangan tersendiri bagi saya. Selain dituntut untuk dapat berkomunikasi dalam diskusi dengan baik, saya juga harus memberikan kesan yang terbaik untuk Oseanografi ITB dimata orang – orang ASEAN lainnya.

Pelatihan pada minggu awal diisi oleh materi kelas dengan berbagai topik yang berhubungan dengan linkungan laut. Kelas yang paling sayang minati membahas mengenai terumbu karang oleh profesor Yu Kefu. Dalam kelas ini saya banyak berdiskusi mengenai peran dari terumbu karang itu sendiri sebagai proteksi alami pantai dari gelombang laut. Banyak informasi – informasi menarik mengenai research dibidang ini khususnya jika ingin melanjutkan studi di Australia. Profesor Yu Kefu sangat antusias apabila ada mahasiswa Oseanografi ITB yang ingin bekerja sama membuat penelitian mengenai terumbu karang.

dika1

Suasana kelas coral reefs and their ecological environmetal function oleh prof. Kefu Yu,

Selain itu materi kelas yang tidak kalah menarik lainnya adalah transpor sedimen, budidaya ikan, akuakultur, dan sistem pesebaran informasi dari hasil penelitian di Cina. Jangan cemas mengenai permasalahan bahasa, walaupun para dosen adalah orang Cina mereka menggunakan bahasa Inggris pada proses belajar mengajarnya.

dika2

Foto bersama seluruh pesera dan dosen

Minggu akhir dari pelatihan ini diisi oleh kunjungan lapangan ke tempat – tempat menarik di Cina. Tentu saja minggu akhir merupakan minggu yang ditunggu – tunggu oleh semua peserta. Tempat yang pertama kali saya kunjungi adalah balai penelitian mangrove di Beihai. Disini para ahli meneliti mengenai jenis – jenis mangrove yang ada di Cina dan pesebaranya. Bukan hanya itu saja di balai ini juga meneliti peran mangrove dan kaitanya dengan ilmu oseanografi. Seperti meneliti seberapa besar disipasi energi gelombang yang ditimbulkan oleh keberadaan dari hutan mangrove.

dika3

Balai penelitian mangrove

dika4

Kondisi mangrove Cina yang ukurannya kecil dan jauh berbeda dengan kondisi mangrove yang ada di Indonesia

Kunjungan selanjutnya saya diberi kesempatan untuk melihat Universitas Qinzhou yang berada di dekat pantai. Universitas ini memiliki jurusan oseanografi dan juga jurusan – jurusan mengenai laut lainnya. Walaupun letaknya jauh dari wilayah perkotaan, fasilitas dari Universitas Qinzhou sudah lebih maju dari apa yang saya bayangkan. Mereka memiliki ruang aquarium untuk meneliti jenis – jenis ikan dari jurusan marine biology. Selain itu untuk jurusan mesin kapal dan perkapalan mereka memiliki ruang simulasi tersendiri dan sampai saat ini ruangan tersebut menjadi ruangan terasyik yang pernah saya kunjungi. Hal yang tidak kalah menarik lainnya adalah lahan simulasi transpor sedimen yang ada dihalaman depan kampus. Banyaknya fasilitas untuk belajar mengajar membuat ilmu kelautan di wilayah Qinzhou sangat diminati oleh banyak orang.

dika5

Suasana ruang aquarium yang digunakan untuk meneliti ikan – ikan laut

dika6

Laboraterium mesin kapal

dika7

Ruang simulasi kemudi kapal

dika8

Laboraterium Transpor Sedimen

Pada akhir kunjungan lapangan, saya diantarkan untuk mendatangi tempat budi daya udang yang ada di Fangcheng. Daerah Fangcheng merupakan daerah terbaik dalam penghasil udang putih. Dalam kunjungan ini saya diperlihatkan bagaimana cara membudidayakan udang dari mulai tahap pembenihan sampai menjadi udang dewasa. Prosesnya tidak jauh berbeda dengan budidaya udang di kota Cirebon. Namun peralatan yang ada sudah lebih maju dibandingkan yang ada di Indonesia.

dika9

Tambak budidaya udang

Adanya pelatihan ini memberikan banyak sekali manfaat pada diri saya. Disamping saya menjadi lebih berani dan mandiri, saya menjadi lebih terbuka terhadap ilmu – ilmu baru yang tidak dapat saya temui di Indonesia. Memang benar, saat ingin mengejar ilmu hal yang pertama kali dilakukan adalah berani keluar dari zona nyaman itu sendiri. Cina mengajarkan saya banyak hal. Dibalik kebudayaan orang – orangnya yang keras, tersimpan setimbun ilmu pengetahuan untuk kemajuan negerinya. Saya percaya Indonesia suatu saat nanti dapat mengimbangi kemajuan negeri Cina. Mungkin itu tujuan dari apa kata pepatah, belajarlah sampai ke negeri Cina untuk kembali pulang demi memajukan Indonesia.

dika10

Foto bersama setelah upacara penutupan

TIPS

Hai, mungkin ini beberapat tips untuk ikutan program ini tahun depan boleh disimak :

  1. Baca formulir dengan baik. Jika ada yang tidak dimengerti jangan ragu buat menghubungi profesor yanga ada disana atau contact person
  2. Seluruh biaya akomodasi selama di Cina akan ditanggung.
  3. Tiket pesawat dianjurkan bayar sendiri tapi kalau mengajukan surat keberatan pembelian tiket pesawat, pihak penyelenggara akan menyiapkan tiket tersebut secara gratis.
  4. Selamat mencoba di tahun 2015.

TIPS

Hai, mungkin ini beberapat tips untuk ikutan program ini tahun depan boleh disimak :

  1. Baca formulir dengan baik. Jika ada yang tidak dimengerti jangan ragu buat menghubungi profesor yanga ada disana atau contact person
  2. Seluruh biaya akomodasi selama di Cina akan ditanggung.
  3. Tiket pesawat dianjurkan bayar sendiri tapi kalau mengajukan surat keberatan pembelian tiket pesawat, pihak penyelenggara akan menyiapkan tiket tersebut secara gratis.
  4. Selamat mencoba di tahun 2015.